Masih ingat dengan nasyid "..dunia memperdaya kita. Membenam fitrah manusia. Dan kita adalah khalifah. Kelak akan ada perhitungan Yang Kuasa"?
Adapun mungkin termasuk saya, Alhamdulillah..saya diingatkan kembali oleh Pak Ustadz di suatu acara halal bi halal, dengan tausiyah dan muhasabah mengenai kebiasaan kita yang lebih sering dipusingkan dalam urusan finansial. Lebih banyak cemberutnya daripada senyum ikhlasnya. Dan lebih banyak menghitung-hitung.
Dengan merenungkan hikmah back to fitr maka selaiknya fitrah manusia adalah sebagai khalifah, maka seharusnya dunia hanya ada di genggaman bukan di dalam hati.
Termasuk golongan manakah kita bila saatnya kita harus mengeluarkan harta kita untuk suatu keperluan riil, lalu kita tahan dengan alasan 'sayang'?
Begitupun dengan Dinar Emas dan Dirham perak yang kami sebarluaskan. Tujuan utamanya tentu untuk memproteksi nilai aset kita dengan cara yang lebih disukai Allah dan KekasihNya (Baginda Nabi Muhammad SAW). Kita menabung sesuai syar'i dan Islam juga tidak mengajarkan kita menimbun harta dan menahan-nahan bila saat yang penting datang misalkan zakat, infaq, ataupun melepas Dinar untuk membayar biaya sekolah, biaya kesehatan dan keperluan lainnya.
Semoga kita bukan termasuk golongan yang berkata 'sayang' apabila harus mengeluarkan zakat, infaq dan lain sebagainya.
Semoga kita termasuk golongan yang dimudahkan dalam menggapai rezeki halal, suci, untuk kemudian ikhlas membelanjakan harta kita di jalan Allah SWT.
"Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS: Al Bayyinah [98]; ayat 8)
Grafik Harga Dinar Hari Ini
Harga Dinar, Dirham, Emas
Monday, August 27, 2012
Sunday, August 19, 2012
Happy Idul Fitri 1433 H
Taqobbalallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum.
Taqobbal ya karim.
Taqobbal ya karim.
We are sorry to free of transactions until August 26, 2012.
Sunday, August 12, 2012
Differensiasi Koin Dinar, Logam Mulia dan Emas Perhiasan.
check
before buy adalah kegiatan yang biasanya kita lakukan, termasuk dalam membeli
koin Dinar atau perhiasan. Dan ini juga termasuk pertanyaan dari teman saya
kemarin. Pertanyaannya adalah apa perbedaan dari koin Dinar, Logam Mulia dan Emas perhiasan?
Dari segi
persamaannya tentu karena bahan bakunya sama sama terbuat dari emas. Lalu apa
sebab yang membuat kita menentukan pilihan terhadap Dinar, LM atau perhiasan.
Dinar:
- Persentase kadar emasnya adalah 91.7 % dan berat 4.25 gram sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
- Memiliki sifat unit account, mudah diliquidasi, dijumlahkan dan dibagi.Misal kita punya 100 dinar dan ingin mencairkan 5 dinar, maka tinggal melepas 5 dinar dan tetap menyimpan 95 dinar.
- Memiliki nilai da'wah tinggi, karena sosialisasi dinar akan mendorong sosialisasi syariat Islam itu sendiri. Nishab zakat misalnya ditentukan dari nilai Dinar dan Dirham.
- Transparansi sistem harga jual kembali, dikurangi 4 % dari harga pasar Emas Internasional.
- Dikenakan biaya kirim.
Logam Mulia/ Emas Lantakan:
- Persentase kadar Emasnya adalah 99.99%.
- Tidak dikenakan biaya cetak untuk pembelian 1 kilogram. Semakin besar unit yang kita beli semakin murah harga pergramnya.
- Harga perunit tinggi untuk pembelian 1-5gram karena dikenakan biaya cetak.
- Tidak Fleksibel dalam liquidasi. Karena kendala ukuran, tidak mudah dipecah dalam unitnya. Bila kita hanya butuh 10 gram untuk suatu keperluan, maka bila kita punya 100 gram, yang 100gram/unit itu harus dijual dahulu kemudian membeli lagi 90gram/unit.
Emas Perhiasan:
- Persentase kadar emasnya; mulai dari 70%, 75% hingga 99%.
- Selain untuk investasi, bisa juga digunakan sebagai perhiasan.
- Biaya produksi tinggi atau biasa disebut ongkos bikin. Semakin bagus dan rumit modelnya maka semakin tinggi harganya.
- Sistem harga jual kembali terkadang kurang transparan tergantung toko emasnya.
Dari perbandingan-perbandingan
tersebut, kita bisa bijak dalam menentukan pilihan investasi mana yang tepat
untuk kita. Wallahu A’lam.
Source: Muhaimin Iqbal, Saturday November 22, 2008.
Subscribe to:
Posts (Atom)