Grafik Harga Dinar Hari Ini
grafik harian
Harga Dinar, Dirham, Emas

Thursday, June 28, 2012

UNTUK KEMAJUAN ISLAM

Suatu sore, ketika saya berkeliling di sekitar kompleks sambil menemani anak saya dengan sepedanya saya juga berbincang dengan seorang ibu. Hingga saya dihadapkan dengan pertanyaannya apa keuntungan dari menggunakan Dinar? 

Dengan menggunakan Dinar, kita berniat untuk menghidupkan kembali sistem keuangan Islam. Merujuk pada sumber ajaran syariat Islam dalam membeli, menjual sesuatu, mencari rezeki, ataupun ketika membelanjakan harta dan solusi lainnya untuk memecahkan permasalahan hidup setiap muslim harus mengikuti hukum Allah dan rasul-Nya sebagai bukti ketaatan terhadap firman Allah: "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, Dan siapa yang mendurhakai Allah dan rasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al Ahzab [33]:36).

Yang membedakan sistem keuangan Islam dan sistem kapitalisme adalah sifatnya. Sifat sistem keuangan Islam adalah untuk saling memudahkan, tidak merugikan pihak lain, tidak spekulatif. Sedangkan sifat sistem kapitalisme memiskinkan ditambah dengan margin administrasinya yang mencekik. 

Jika sumber fondasi dalam bermuamalah dengan sesama individu keluarga sendiri, lingkungan sekitar, bermasyarakat sesuai syariat Islam, maka kita akan mendapatkan masyarakat muslim yang kita dambakan. Sehingga rasa ukhuwah islamiyah akan terwujud di tengah tengah masyarakat kita. 




Sumber: Buku Adil Fathi Abdullah, Membentuk Keluarga Idaman.

Monday, June 18, 2012

Dimulai dari secangkir kopi, mari kita kalahkan inflasi!

Dimulai dari secangkir kopi panas di meja. Karena terlalu panas maka saya menunggunya hingga hangat sambil membaca buku Muhaimin Iqbal, Ayo Berdagang. Di buku beliau diterangkan bahwa inflasi itu seperti ember bocor untuk mengangkut air. Seberapa keras kita bekerja, hasilnya tidak akan optimal karena tabungan kita terus tergerus oleh inflasi. Betapapun banyaknya Anda simpan dalam deposito, hasil bersih setelah pajak menjadi kisaran 5% pertahun, bila bentuknya tabungan biasa hasil bersihnya kisaran 3% pertahun. Sedangkan inflasi rata-rata 8% pertahun. Apalagi bila disimpan dalam bentuk US$, hasil bersihnya hanya kisaran 0,30% pertahun sementara tingkat inflasi US$ adalah kisaran 4% pertahun. Maka dimanapun uang kertas anda disimpan, masih akan tergerus oleh inflasi. Seperti tetap membawa air dalam ember bocor.


Dimulai dari secangkir kopi, mari kita kalahkan inflasi. Inflasi yang memiskinkan secara jabariyah (dari kata jabaro yang artinya memaksa) karena sistem kapitalisme. Sistem keuangannya yang membuat sebagian besar masyarakat pekerja menabung dalam berbagai bentuk tabungan, deposito, asuransi, dana pensiun dlsb memberikan ilusi nilai yang seolah uang kita tersimpan untuk berbagai kebutuhan yang akan datang, tetapi ternyata inflasi lebih cepat menggerogoti nilai aset.  Dan tentu sistem ribawi didalamnya telah berlawanan dengan aqidah Islam seperti dalam surah Al 'Imron ayat 130.


Sambil minum kopi bersama teman-teman, mari kita 'tambal ember bocor', kalahkan inflasi dengan menggunakan Dinar. Fungsi Dinar adalah untuk memproteksi aset kelak kita akan perlukan untuk membayar biaya pendidikan anak, ongkos pergi haji, biaya kesehatan, masa pensiun dan sektor riil lainnya. Kelak akan lebih memiliki manfaat yang lebih luas dan barokah bila Dinar disimpan secukupnya (sekedar untuk mengalahkan inflasi) dan sebagian lainnya diputar/ dikelola untuk berdagang as Wealth Producing Assets.





Saturday, June 16, 2012

WEALTH PRESERVING ASSETS

Dalam dinamika kemakmuran, aset-aset dikategorikan menjadi tiga jenis:
  1. Wealth Reducing Assets
  2. Wealth Preserving Assets
  3. Wealth Producing Assets
Wealth Reducing Assets, aset yang mengurangi kemakmuran. Sebagai contoh: Anda mempunyai uang kertas 10,000 rupiah untuk digunakan membeli beras 1kg yang cukup untuk dikonsumsi sekeluarga 2 hari. Bila uang tersebut tidak dibelikan beras sekarang, hanya disimpan dengan jumlah yang sama, maka 4 tahun lagi uang yang sama tersebut hanya cukup membeli 0,5 kg beras. Bila didepositokan dengan hasil rata-rata 7% rupiah dan 2,5% untuk Dollar, dalam lima tahun lagi pertumbuhan nilainya kalah dengan inflasi bahan pangan.


Aset jenis kedua, Wealth Preserving Assets adalah aset yang mampu menjaga tingkat kemakmuran yang sama bila aset tersebut anda pegang atau simpan. Contoh: rumah, emas atau Dinar. Secara liquidity, emas atau Dinar yang paling mudah untuk dicairkan menjadi dana, kapan saja kita butuhkan, tanpa syarat. Tidak seperti asuransi; pencairannya bersyarat, dan harus menunggu usia tertentu. Itupun kalau tidak mengalami colapse account, dana yang tersimpan hangus untuk cost ekuisisi, administrasi dan  alasan lainnya.


Aset yang layak disebut primadona adalah Wealth Producing Assets, aset yang mampu memproduksi kemakmuran. Yaitu berdagang. Berdagang dengan sesuai syariah, seperti tidak menipu, tidak mengurangi timbangan, tidak menyembunyikan cacat barang, tidak mengandung perjudian (maisir), tidak spekulatif (gharar)..dst insyaAllah menghadirkan untung, barokah juga teriring dan kita sedang membuka 9 pintu dari 10 pintu rezeki. Aamiin.







Sumber:  Buku Muhaimin Iqbal, Ayo Berdagang!





Tuesday, June 5, 2012

DINAR DIRHAM; UANG UNIVERSAL SEPANJANG ZAMAN

Mengenal Dinar dan Dirham Islam. Apa bedanya dengan Dinar Iraq? Dinar Iraq dan sejenisnya tidak sama dan bukan Dinar Islam. Dinar Iraq adalah uang kertas biasa, sedangkan Dinar Islam adalah uang emas 22 karat dengan berat 4,25 gram.


Uang dalam berbagai bentuknya sebagai alat tukar perdagangan telah dikenal ribuan tahun yang lalu seperti dalam sejarah Mesir kuno sekitar 4000-2000 SM. Dalam bentuknya yang lebih standar, uang emas dan perak diperkenalkan oleh Julius Caesar dari Romawi sekitar tahun 46 SM. Julius Caesar ini pula yang memperkenalkan standar konversi dari uang emas ke uang perak dan sebaliknya dengan perbandingan 12 : 1 untuk perak terhadap emas. Standar Julius Caesar ini berlaku di belahan dunia Eropa selama sekitar 1250 tahun yaitu sampai tahun 1204.


Di belahan dunia lainnya di Dunia Islam, uang emas dan perak yang dikenal dengan Dinar dan Dirham juga digunakan sejak awal Islam sampai berakhirnya Kekhalifahan Utsmaniah Turki tahun 1924, baik untuk kegiatan muamalah maupun ibadah seperti zakat dan diyat.


Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW.


"Timbangan adalah timbangan penduduk Mekkah dan takaran adalah takaran penduduk Madinah"(HR Abu Dawud)


Pada zaman Khalifah Umar ibnul Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan. Standar hubungan berat antara uang uang emas dan perak dibakukan, yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham.


Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya. Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di museum setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka diketahui bahwa timbangan berat uang Dinar Islam yang diterbitkan Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4,25 gram sama dengan mata uang Byzantium yang disebut Solodos dan mata uang Yunani, Drachma.


Atas dasar rumusan hubungan berat Dinar dan Dirham maka dapat dihitung pula berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4,25 gram = 2,975 gram.


Sampai pertengahan abad ke 13, baik di negeri Islam maupun di negeri non Islam, sejarah menunjukkan bahwa mata uang emas yang relatif standar tersebut secara luas digunakan. Hal ini tidak mengherankan karena sejak awal perkembangannya pun kaum muslimin banyak melakukan perjalanan perdagangan ke negeri yang jauh.


Pada akhir abad ke 13 Islam mulai merambah Eropa dengan berdirinya Kekhalifahan Utsmaniyah dan tonggak sejarahnya tercapai pada tahun 1453 ketika Muhammad Al Fatih menaklukan konstantinopel dan terjadilah penyatuan dari seluruh kekuasaan Kekhalifahan Utsmaniyah.


Pada zaman Kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan (75-76M) Beliau melakukan reformasi finansial dimana hanya Dinar dan Dirham Islam yang dipakai di Kekhalifahan.


Sampai abad ke 19 koin-koin emas yang ada di dunia hanya berkadar antara 0,900-0,9166 % atau yang paling mendekati adalah 22 karat (22 karat= 22/24=0,917 %). 


Selama tujuh abad dari abad ke 13 sampai abad 20, Dinar dan Dirham adalah mata uang yang paling luas digunakan meliputi tiga benua, Eropa bagian selatan dan timur, Afrika bagian utara, dan Sebagian Asia. 


Apabila ditambah dengan masa kejayaan Islam sebelumnya yaitu mulai awal kenabian Rasulullah SAW (610) maka secara keseluruhan Dinar dan Dirham adalah mata uang modern yang dipakai paling lama (14 abad) dalam sejarah manusia.


Dalam fiqih Islam, uang emas dan perak dikenal sebagai alat tukar yang hakiki (thaman haqiqi/ thaman halqi). 


Di Indonesia di masa ini. Dinar dan Dirham diproduksi oleh PT. Aneka Tambang Tbk dan PERURI (Percetakan Uang Republik Indonesia) yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan berat dan kadar sesuai dengan standar Dinar dan Dirham di masa awal Islam. Standar kadar dan berat inipun tidak hanya disertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) tetapi juga disertifikasi oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional, London Bullion Market Association (LBMA). 




Sumber: Buku Muhaimin Iqbal, Dinarnomics.